Postingan

Menampilkan postingan dengan label SASTRA

Berapa Buku Lagi

By: Gus Wim Berapa buku lagi Aku harus menulis tentangmu Akankah seribu buku untukmu sudah cukup Akankah ribuan sajak harus kutorehkan untukmu Akankah ribuan lembar kertas harus ku tulis Ataukah aku harus menulis sampai titik nafas terakhirku Supaya engkau paham setiap ketukan hatiku Saat menggores sebuah lembaran kertas Itu adalah bisikan ketulusan sebuah rasa Kejujuran dari pena yang tergores Berapa buku lagi Menjadi pertanyaanku tentang sebuah hati Akan kelembutan suaramu Laksana semilir angin yang berhembus dari sanubari terdalam Hingga aku terjatuh dan tak sanggup berdiri lagi Akankah penantian tanpa ujung Sampai di akhir zaman kelak Setiap ketukan huruf yang kutulis Menyiratkan air mata penantian gelap Laksana mendung tak turun hujan Sampai tandus kering kerontang  Berapa lembar lagi Harus kutulis tentangmu Supaya engkau paham makna sebuah hati Kian hari mulai masuk dalam ranah hitam Tanpa ada jawaban antara iya dan tidak Namun hari tetap berjalan Sampai suatu saat detakan ja...

Pena Menggores Masa Silam

By: Gus Wim Tatkala masa lalu Mulai di gores lewat pena Ribuan tahun silam Mulai di data dari sudut pandang yang berbeda Semua dipenuhi mendung tebal Butuh pencahayaan Untuk menyingkap keadaan Pena akan mencoba menggores Mulai dari huruf ke huruf Dari kata ke kata Supaya menjadi seratan pembelajaran Untuk masa yang akan datang Menyingkap keadaan masa silam Tak cukup satu kata atau satu huruf Namun di datangkan lautan tinta  Tak cukup untuk menulis masa silam Lautan buku di datangkan sekalipun Kebenaran masih dipertanyakan Karena kebenaran hanya milik Sang Maha Esa Sedangkan makhluk hanya sebatas berusaha Walau hanya setitik cahaya terang Paling tidak ada asa kebenaran Menggores keadaan masa silam Sangat membutuhkan penalaran yang sangat runut Mulai dari koma sampai titik titik Hingga tersadur dalam sebuah bahasa Semua butuh daya tulis  Kemampuan dalam menelaah keadaan masa silam Pena menggores masa silam  Laksana membelah hutan belantara Menyingkap keadaan yang masih gela...

Rahasia Wanita di Balik Jilbab

By: Gus Wim Wanita di balik jilbab Kau terlihat begitu tegar pancarkan sebuah makna kata Saat di kau menatap setiap detak jantung yang kian mulai melambat Namun aku tahu di balik kerudung rahasiamu Bahwa kamu begitu rapuh saat memahami makna rasa kata cinta Karena kamu tercipta dari tulang rusuk yang ada dalam daku Sehingga aku tahu kalau kamu tak berdaya memahami sebuah jiwa Wanita di balik jilbab Mencerahkan di setiap mata kepala sang lelaki yang ada Saat mengingat jilbab membentang rahmat di langit biru Bersandar di atas kepala wanita dalam naungan sang maha Ilahi Wanita di balik jilbab Setiap waktu kan bersinar di setiap qalbu sang lelaki Bahkan tetesan air matamu mengandung cairan salju Sejukkan setiap jengkal jantung di balik sanubari Selangkah indah wanita berjilbab nan ayu rupawan Saat hati ini kering membisu rasa dalam benak Kau wanita punya rahasia nikmat yang agung terasa Wanita di balik jilbab Rahasiamu ada di alam jiwa Terlantun saat pujian datang Sampai hari nan waktu tak...

Karya Agung

By: Gus Wim Membaca karya agung Laksana mengarungi samudra alam Membedah kebuntuan nalar Menerjang hutan belantara Mendaki puncak-puncak gunung Melintasi bintang di cakrawala Menembus segala alam imagi Sungguh karya agung begitu abadi Sampai nalar tak mampu berpkir Cukup mengatakan iya dan patuh Karya agung Menyatukan umat Dalam naungan nalar kemanusiaan Penuh dengan solusi di luar dugaan Semua tertulis dalam karya agung Lebih dari tujuh generasi akan mengenang Sebuah karya agung Sampai waktu ribuan tahun Masih di kenang dan menjadi pedoman Sebuah karya agung Tak pernah ada kata habisnya Karya agung Dua ribu tahun sebelum masehi Masih menjadi rujukan umat Dalam menggagas sebuah falsafah kehidupan Menemukan monotheis Dalam ikatan batin ketuhanan Sungguh keagungan karya sepanjang masa Tertulis bait-bait autobiografi sampai lintas batas falsafah kehidupan Ribuan tahun lebih lamanya Membaca karya agung Laksana mengarungi lautan Ilmu Lautan tinta tak sa...

Para Penulis Kitab Suci

By: Gus Wim Alam kesadaran Alam bawah sadar Menjadi satu padu dalam warna Saat membaca Kitab Suci Dari para penulis Wahyu Ilahi Membuat hati hanyut dalam naungan alam rasa Sungguh daya tulismu Begitu agung dalam kesempurnaan Melebihi keindahan lautan tinta emas sekalipun Para penulis Kitab Suci Engkau menorehkan sejarah besar Keagunganmu melebihi lintas batas nalar kemanusiaan Dari tulisanmu menjadi jutaan tafsir Sampai nalar tak mampu menerjemahkan makna yang engkau tulis Karena begitu suci tulisan yang engkau torehkan di semesta alam Dalam menerjemahkan kehidupan dunia maupun ukhrowi Wahai para penulis Kitab Suci Jutaan kitab tunduk Hanya dengan satu ayatmu Sungguh engkau para penulis agung Menjadi keabadian nalar kemanusiaan Suhuf dan Mushaf adalah tulisan yang engkau torehkan Sejak manusia mengenal daya tulis Hingga sampai manusia di titik persimpangan akhir Wahai para penulis kitab suci Namamu tercatat dalam sejarah manusia Keagungan tulisanmu Memb...

Keindahan Jiwamu Bersama Nur Kenabian

By: Gus Wim Jiwamu laksana nur Kenabian Penuh dengan laku sabda dan firman Sungguh menakjubkan semesta alam Hingga membuat nadiku berdetak dalam irama keharmonisan Karena jiwamu begitu lembut Membuat hatiku terpanah rasa Sampai kalbuku terpikat Akan kelembutan jiwamu Jiwamu laksana nur Kenabian Jernih laku tindakmu Membuat hatiku berbahagia rasa Sampai diriku jatuh hati akan pesonamu Terasa terpancarkan samudra kejernihan Saat mengenang budi lakumu Karena engkau penuh dengan keindahan kalbu Hingga seluruh alam kalbuku merasa sejuk Saat mengingat pancaran jiwamu Penuh dengan budi luhur nur Kenabian Terasa selalu menyertai jiwa lakumu Kelembutan jiwamu Membuat seluruh alam berdecak kagum Karena jiwamu begitu luhur Sabda dan firman menjadi jalanmu Hingga seluruh ragaku terasa nyaman aura rasa Saat menghayati keindahan jiwamu Terasa penuh kebahagiaan suka cita Membuat rasa hati nyaman seluruh kalbuku Sampai masuk ke jantung pertahanan jiwaku Keindahan jiwa...

Membangun Mahligai

By: Gus Wim Kala jodoh sudah sampai di ujung hati Jangan pernah di lepas Walau sang kumbang bertebaran Nampak perkasa terlihat di aura jiwa Karena sesungguhnya Itu hanya fatamorgana sementara Namun jodoh itulah sejati Dari segala resah, gelisah, bahagia Dalam naungan kesempurnaan mahligai Bersabar Tabah menghadapi segala keadaan Itulah kunci dari mempertahankan mahligai keluarga Membangun mahligai Laksana membangun istana bahtera di lautan Kalau ada yang berlubang Segera di sulam Supaya bahtera tidak tenggelam di lautan lepas Membangun mahligai Tidak hanya sebatas kepercayaan Namun lebih jauh harus bisa memupuk Supaya berkembang dengan aura keharmonisan Walau terkadang hujan tak bersahabat Tetapi tetap sedia payung Sebelum hujan benar-benar menjadi air mata tanpa jeda Membangun mahligai Selalu ingat pada Sang Maha Kuasa Karena sesungguhNYA Kebahagiaan, kesedihan itu hanya sementara Namun jodoh adalah kehidupan sejati Sampai di ujung kehidupan di dunia...

Membaca Puisimu

By: Gus Wim Saat  ku duduk Di sepanjang pinggir sungai waktu itu Kubuka lembaran kertas terserak bersama buku harianku Ada secercah kertas bertuliskan atas namamu Detak hati mulai merekam sebuah kata Bait puisi yang engkau tulis Lewat kertas putih dengan tinta hitam Mulai kuraba dari kata perkata Tentang raga yang dahaga akan rindu sebuah manja Tentang Sahabat yang dahaga akan sebuah pertemuan Engkau mulai bicara lewat puisimu Bila engkau rindu bunga mekar di depan kampus Engkau rindu tentang persahabatan tanpa sekat keadaan Sungguh aku mengenal puisimu Begitu kuat melukiskan sebuah kata Sampai aku hanyut dalam rengkuhan sebuah bahasamu Kubaca puisimu Ku mulai merekam sebuah rasa makna Tentang kerinduan persahabatan Tentang ribuan hari yang tertulis sebuah keadaan Sungguh aku larut dalam alunan bahasamu Penuh dengan intonasi kuat sebuah hati Sampai tak terasa air mata Mulai berkaca-kaca Saat kau tulis puisi Tentang rembulan yang tak pernah bertemu denga...

Jangan Bermain Hati

By: Gus Wim Matahari masih terbit dari timur Matahati masih tenggelam di ujung barat Rembulan masih terang di sepanjang malam Kaki masih berpijak di bumi Nusantara Beratapkan langit biru Sebiru hati saat bahagia Namun hati cepat berubah Tidak seperti rembulan dan matahari Tetap sama dalam naungan rotasi alam Hati memang berbeda Dapat berubah dengan cepat Kadang luka dan kadang lebih menderita Abaikan saja semua itu Karena itu hanya sementara Tak ada yang abadi Semua berotasi dengan keadaan Penuh dengan fatamorgana perubahan Jangan bermain hati Karena hati itu laksana air Dingin tapi bisa menghujam lebih dahsyat di banding ribuan pisau Jangan bermain hati Apalagi mempermainkan hati seseorang yang mencintaimu Karena sesungguhnya Itu kebodohan terbesar sepanjang nafasmu Kabut dingin Masih menyilimuti malam gulita Mengais sisa-sisa penampakan alam Sementara hati tetap mengharap Keadaan yang tak menentu Anggap saja itu hiasan hidup Berjalan bersama naluri...

Mengenang Bunda Pada Malam Takbir di Tengah Pandemi

By: Gus Wim Malam takbir menggema seantera Hari kemenangan telah tiba Suasana begitu berbeda Saat Bunda masih bernafas dua tahun silam Rasa hati pada malam ini Untuk terus selalu berusaha mengagungkan Asma Ilahi Dia begitu penyayang Pada hamba yang beriman Dia Maha hidup Dia maha segala kuasa Pada malam takbir di tengah pandemi Terasa berbeda rasa lebaran tahun ini Di banding lebaran dua tahun silam Karena Covid membuat beda keadaan Semua terasa asing Tetapi semua harus di jalani dengan keikhlasan Penuh kesabaran kemanusiaan Waktu dua tahun silam Pada waktu lebaran Oncor-oncor di nyalakan Dari desa hingga pojok-pojok kota Begitu istimewa penuh warna di sepanjang jalan Namun pada malam takbir di masa pandemi ini Terasa hatiku ada yang hilang Iya! Aku teringat Bunda tercinta Saat menjelang malam takbir datang Beliau Bunda selalu sibuk mempersiapkan diri Untuk esok lusa dalam menyambut hari yang fitri Nampak jelas ingatanku Saat Bunda mulai memasak air re...

KEIKHLASAN DI MASA PANDEMI

By: Gus Wim Ya! Allah Bila aku harus pergi Meninggalkan semesta Saat badai pandemi Menghantam sendi-sendi kehidupan Aku ikhlas bila itu harus terjadi Ya! Allah Setiap detak nafasku Setiap detak jantungku Setiap denyut nadiku Itu semua adalah: milikMu Bila itu semua Engkau ambil detik ini juga Aku ikhlas sebagai bentuk pengabdian kepadaMu Ya! Allah Pandemi Covid ini Sudah meluluhlantakkan normatif kehidupan Semua terasa beda Tapi aku tetap percaya akan karuniaMu Ya! Allah Udara hari ini Sudah terasa merasuki sejengkal rasa kematian Begitu menyengat aroma ketiadaan Nyawa sudah mulai lahan perlahan pisah dengan raga Akankah detik ini Aku harus menutup mata selamanya Semua kupasrahkan kepadaMu Pemilik segala hidup dan matiku Ya! Allah Jemputlah nyawa ini Bila sang Malaikat pencabut nyawa Sudah menulis taqdirKu Atas nama kebesaranMu Aku ikhlas melepas jasad Bila taqdir sudah menjemputku Detik ini juga Detik ini juga Detik ini juga